Gunung Andong : Pasar Malam di Ketinggian

Sudah pada tau Gunung Prau yang lagi hits belakangan ini? Gosipnya, bisa sampe ribuan pendaki setiap malam minggu. Eh, tapi udah tau kan Prau nge-hits?

 

Sekarang Gunung Prau ada saingannya, lokasinya di Magelang, Jawa Tengah, dengan ketinggian 1726 mdpl. Yak, Gunung Andong, sang primadona baru. Mudah dijangkau (bagi gue yang berlokasi di Jawa Tengah), gak tinggi tinggi banget tapi luamayan lah buat bikin keringet jika membawa carrier, perjalannya hanya menempuh kurang lebih 1 jam dan apa yang didapat setelah sampai puncak?
Pemandangan awesome gunung – gunung tetangganya, liat depan ada Merbabu, geser dikit ada Merapi, noleh dikit ada Sindoro, dan Sumbing. Lengkap kan? Gunung Andong ini juga terkenal dengan sebutan punuk unta karena di puncaknya seperti punuk unta. Worth to try, kan?

 

Gunung Andong

 

Jalur menuju puncak punuk unta
Gimana? Udah mulai tertarik buat naik gunung ini? Gue menobatkan ini sebagai gunung favorit karena aksesibilitasnya yang mudah (cailah). Tapi kemudian semua berubah ketika negara api menyerang………..
20-21 Maret 2015 kemaren gue kembali ke Gunung ini untuk pelarian, (karena gagal camping ceria di Hutan Mangli) selama perjalanan gue berpapasan dengan pengendara motor yang menggendong carrier “pasti mau ke Andong deh” ke-sok-tau-an gue muncul. Sesaat setelah gue melewati jalan menuju basecamp Andong gue menengok ke arah puncak gunung tersebut dan…
“Lah itu Bintang pindah ke Gunung semua?”
Men, itu bukan bintang, bintang masih ada diatas langit. Dunia belum kiamat, itu adalah cahaya senter para pendaki yang berada dan menuju puncak. Andai saja gue punya kamera bagus, bintang di Gunung Andong tersebut bisa gue upload disini, huhuhu endorse saya kamera, dong? Sinarnya layak senyummu yang mencerahkan hariku.
Sesampainya gue di basecamp, kekhawatiran gue menjadi keyakinan.. bahwasanya… Gunung Andong penuh pengunjung! Entah gue motor yang ke-berapa malam itu, rame bingits.
Pendirian tenda udah sampe ke puncak sebelah yang pas gue kesana pertama kali gaada satupun yang diriin tenda, dan itu udah sampe ke… ah sudahlah
Amburadul emeseyu kan? Bahkan di jalur yang miringnya miring banget juga didiriin tenda! Gue gak kebayang sih itu tidurnya telentang apa berdiri jadinya. Kuatkanlah mereka yang bobo nya berimpitan. Kebanjiran pengunjung gini emang menguntungkan untuk para penduduk setempat, lagipula buat yang udah pernah naik kesini sepertinya tau kalau Gunung Andong terorganisir banget banyak yang ngurusin semacam ranger setempat. Semoga di puncak sana juga bisa menguntungkan ya, karena kemaren yang gue temukan adalah sampah popmie dimana – dimana dan ada juga yang dijadikan satu untuk dibakar. Duh, dek kan bisa dibuang dibawah 🙁
Gengs, kalo yang ini mah namanya pemblokiran jalan. Sepanajang jalan dari puncak satu ke puncak lainnya cuma diisi oleh tenda tenda berbagai ukuran, ada yang menghadap utara, selatan, barat, dan timur. Really! campur aduk dan ada juga yang “asal tenda bisa berdiri, tancaplah pasak disana” sampai sampai ada yang cuma gelar tikar dan pake sleeping bag, eh apa doi emang ga bawa tenda ya?
Karena ingin cepat – cepat menyudahi ini semua, kami pulang sepagi mungkin (lalu kesiangan) untuk turun dulan tanpa bermacet-macet ria seperti pas naik, namun apalah daya manusia berharap, Allah yang menentukan.
Jalur nya cuma bisa dilewatin 1-2 orang, itu juga kalo ga bawa apa-apa, kalo bawa barang bawaan gabisa berdampingan jalannya, susah untuk ngebalap orang didepannya juga. Jadi, ya begitulah. Namanya juga Gunung Andong lagi naik daun, ya rame rame gitu, semoga tidak disalah gunakan aja ya malah jadi berantakan, kan kasian 🙁 Pergi macet, pulang macet. Ah, rindu Jakarta.
Salam dari Gunung Andong dikala Sepi..

Leave a Reply