Yang Tertinggal di Kawasan Kota Tua Jakarta

Hai, Jakarta 🙂
Kota yang bukan lagi menjadi tempat tinggal namun tetap saja ingin menyempatkan ke sana. Padahal katanya, Jakarta penuh dengan kemacetan tapi aku mau-maunya menghadapi macet. Padahal katanya, Jakarta panas tapi masih aja mau berkeliling. Padahal katanya, Jakarta mahal tapi toh siapa peduli jika memang ada alasan untuk tetap berkunjung ke Jakarta.

#sokpuitis #padahalenggak #merasapuitis #bukanromantis

Jadi ceritanya gue mengikuti mata kuliah KKL yang mahasiswa dikit banget udah kayak les bimbel privat. Yak hanya lima orang. Setelah mengetahui motivasi mereka memilih mata kuliah pilihan ini gue baru menyadari ada yang aneh dari gue….. ternyata lain halnya seperti gue yang emang menginginkan KKL mereka mengambil mata kuliah ini karena sudah tidak kebagian matkul pilihan lain 🙁

Hanya gue yang tulus ngambil matkul ini. Bhay!

Singkat cerita, tugas utama di mata kuliah ini adalah melakukan observasi pada bangunan indische yang ada di Indonesia, nah agar terlihat profesionalitas dari kita, kita mau survey dong ke bangunan yang kita pilih. Nah karena kita mahasiswa, kita maunya dibayarin dong. Alhasil dibuatlah surat permohonan dana dan cairlah dananya dalam kurun waktu seminggu 104% :”) iya ga typo kok emang 104% cairnya wkwkw.

Semoga prodi ku makin kaya.

Berhubung hari sebelumnya gue emang ada conference di Jakarta, jadi gue menyusul langsung ke penginapan tempat kita menginap saat mahasiswa lainnya tiba. Nama penginapannya Madu inn, plis jangan dihilangkan space nya ya nanti bacanya jadi salah kaprah, inget ya Madu-inn. Penginapannya bagus dan murah, recommended buat yang mau irit. Cuman antara kamar sepertinya hanya dilapisin partisi biasa karena gue bisa mendengar jelas obrolan di kamar sebelah.

1. Museum Bank Mandiri

Pertama kita langsung mengunjungi museum bank mandiri, untuk mahasiswa tiket masuknya Rp 3.000, tapi kalau kamu pelanggan mandiri jenis apapun kamu bebas masuk dengan gratis. Bangunannya entah kenapa memberikan kesan “hampa” karena bangunannya besar namun furniture di dalamnya atau barang display di museumnya kurang banyak atau mungkin kurang meriah, sehingga rasanya hampa kayak hatiku yang begitu besar untukmu tapi kamunya cuma punya sedikit waktu buat aku.

telek.

2. Museum Bank Indonesia

Setelah merasa kekosongan di Museum Bank Mandiri, gue dikejutkan dengan sambutan hangat dan ceria yang ditawarkan Museum Bank Indonesia. Gimana engga? di pintu masuknya kita ga akan dibuat bingung dimana harus membeli tiket, menitip barang, dan pintu masuk pameran. Ini nih yang namanya memberikan perhartian sesuai zamannya. Ruangan yang cerah dan meriah memberikan kesan semangat. Semangat gue membara buat mengelilingi museum (padahal mah karena ruangannya full AC)

3. Museum Bahari

museum bahari

Jalan agak jauh dari kedua museum diatas, kita lanjut menuju ke Museum Bahari. Museum yang menyimpan koleksi kebaharian, mulai dari alat yang digunakan nelayan, perahu jaman dahulu, legenda dan cerita rakyat lain. Museum Bahari ini yang nantinya gue bahas sebagai bangunan indische versi gue.

4. Museum Fatahillah

Museum yang satu ini udah jadi primadona nya kawasan kota tua, tempatnya strategis, bangunan megah dan yang jelas karena lapangan besar didepannya yang menjadikan tempat ini hidup. Setiap ada event ya biasanya diadain disini, menjelang sore hari pasti banyak orang berlalu lalang disini, ada penjual makanan, orang kreatif yang menunjukkan kebolehan sampai orang pacaran.

Yang terakhir jangan ditiru ya, gue suka jealous gitu liat orang pacaran.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.