Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Semeru via Ranu Pani

Today is the day, to escape and look deep into nature to knows everything better.
Aug, 10th 2014

it’s not mountain we conquer, it’s our self

Ini kali pertama gue melakukan perjalanan jauh yang sebenernya belum mau dilaksanakan, ini kali pertama gue memikul carrier sendiri lengkap dengan segala kebutuhan individu from head to toe, ini kali pertama gue mendaki tanpa seorang teman -yang sedang melakukan perjalanan jauh di tempat yang lebih jauh, dan ini kali pertama gue mendaki bersama orang yang sebenernya ingin gue ajak untuk kali pertama itu.

they would give everything to reach the summit, they would give even more to get back down.

Karena sekarang pendakian Gunung Semeru itu dibatasi, maka kalian harus booking dulu pendakian kalian via online di bromotenggersemeru.org pembayarannya via transfer dan kuotanya juga bisa dilihat di website tersebut. Setelah semua bookingan gue beres, pas sampai di Ranu pani tinggal daftar ulang. Nah ternyata, waktu gue melakukan daftar ulang pun ada orang yang langsung bayar ditempat. Jadi doi nggak pake booking-bookingan dulu, trus pas gue tanya ke petugasnya katanya sih bisa aja langsung datang, tapi selama kuota belum terpenuhi.

Kalau momennya lagi liburan dan musim pendakian berarti gue saranin lo pada langsung booking online aja deh, daripada diusir ye kan. Ohya info mengenai pendakian semeru juga bisa kalan baca di website nya.

Dari stasiun Malang gue naik angkot yang dicarter khusus untuk para pendaki, kala itu tarifnya Rp 10.000/orang sampai ke Pasar Tumpang. Nah dari sini langsung bisa sewa jeep menuju ke Ranu pani, tapi waktu gue sih disuruh naik angkot dulu sampai kemana gitu ya lupa juga wkwkkw.

Pas banget kayak foto dibawah deh, nah baru dari situ pindah pake jeep. Kalau ngga salah sewa jeepnya Rp 30.000 deh per orang, di jeep itu campur sama para pendaki lain. Jeep gue berisikan 15 orang, 11 orang laki-laki dan 4 orang wanita. Tiga cewek diantaranya itu satu rombongan dan menurut abang jeep badan mereka kecil-kecil jadi disuruh duduk di depan bareng Abang Jeep. Sisa satu cewek ya jelas gue, berdiri di belakang jeep bersama yang lain. Wadaw.

gunung semeru

Rombongan gue ber-empat, bisa dibilang ini rombongan Alumni SMAN Unggulan MH.Thamrin HAHAHA. Sebelum sampai di Ranu pani, jeep gue mampir bentar di spot foto yang punya view Gunung Bromo, lumayan ya bisa foto-foto seakan-akan udah ke Gunung Bromo.

10626647_10202804895551242_7409033576960369600_n

 

Bermalam di Ranu Kumbolo

Target hari pertama adalah bermalam di Ranu Kumbolo. Gue sampai di Ranu pani sekitar jam 12 siang, dilanjut makan siang dan sholat dulu. Ohiya, makan siang disini juga nggak begitu pricey, standart di tempat wisata lah seporsi Rp 15.000

Track awal mah selaw ya turunan sampai ke gerbang pendakian Gunung Semeru, dilanjut tanjakan gemas dengan vegetasi dan jalannya kecil. Walau nanjak di siang hari jadi nggak berasa panas, malah adem ayem, karena penuh pohon.

Seperti pendakian sebelumnya, mana seru nya kalo nggak ngos-ngosan ya? Yak selanjutnya nanjaknya udah mulai berasa sampai pengen banget deh berhenti terus, untungnya di grup pendakian gue ada yg pengen istirahat terus, jadi gue nggak perlu ngomong udah diem bentar. Aku senang abang juga lelah HAHAHAHA

Gak kerasa udah tiba-tiba sore, dan syukurlah Ranu Kumbolo udah mulai menampakkan keindahannya. Langkah kaki makin cepat, pengen cepat-cepat mendirikan tenda terus melipir pipis. Kebelet cuy.

Pemandangan sunset dari atas bukit dengan latar belakang danau ranu kumbolo nggak bisa membuat gue berhenti melangkah, tetep gue pingin pipis! bodoamat sama foto, bodoamat.

10626616_10202804926232009_6945004301855033482_n

 

Berlari-lari Unyu dari Oro-oro Ombo sampai Kalimati

Paginya, kami langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat camp terakhir, yaitu Kalimati. Baru mulai perjalanan langsung disambut sama tanjakan cinta. Mitosnya, setiap orang yang melakukan tanjakan cinta tanpa menengok ke belakang sambil mikirin si ‘dia’ maka mereka akan berjodoh.

Entah orang-orang pada percaya sama mitosnya atau kebetulan aja, selama gue nanjak dan gue ngeliatin para pendaki di depan gue, mereka semua nggak ada yang nengok. Ah perasaan gue aja kali ya WKWK. Dari Ranu Kumbolo sih tanjakan ini nggak keliatan terjal atau susah gt, ternyata pas udah dirasain dengan bobot di dalam carrier, beuh mak, dikit-dikit berhenti gue.

10616196_10202804927112031_5334883373369413619_n

Namun, bak pepatah tidak ada perjuangan yang sia-sia maka itu juga berlaku dengan tanjakan cinta ini. Setelah sampai diatas, gue langsung disuguhkan pemandangan oro-oro ombo nan indah di bawah sana. Iya, di bawah sana.

Di bawah.

BAWAH

Setelah capek-capek nanjak, eh sekarang turun ke bawah. Bhay!

Perjalanan selama menembus oro-oro ombo ini asoy banget pas dilakuin siang hari, terpaan angin, semilir tumbuhan lavender mengayun lambai, diiringin lagu-lagu Banda Neira udah deh pas banget buat shooting lagu. Walaupun panjang tracknya tapi rasanya emang pengen nggak abis-abis, gini aja deh pengenya sampai ke puncak. datar.

Setelah ngelewatin oro-oro ombo, langsung disambut lagi sama jalanan menuju puncak. ya iyalah. Jalanan tanjakan maksud gue, dengan beberapa batang pohon yang tumbang. Untungnya disini ada tukang jualan gorengan, udah kayak nemu oase ya di tengah padang pasir. Mampir bentar buat ngisi tenaga buat lanjut lagi nanjak tanpa lelah

boong deng. lelah banget woy

Disini perasaan baru gue muncul terhadap track nya, love-hate relationship. Gue seneng banget bisa dapet turununan, karena iu berarti kaki gue nggak perlu ngerasain ngilu, energi juga nggak begitu terasa berat. Tapi gue sadar, bahwa gue ini menuju puncak mahameru 3676 mdpl! gue harus terus keatas, kalau pake turun mah namanya gue harus nanjak lagi-lagi-lagi dan lebih banyak lagi!

Drama saat Muncak

Alarm dari empat HP nyala semua, orang di dalam tenda pura-pura nggak denger sambil diem-diem matiin alarm. Gue yang magernya kumat kekeuh masih pura-pura pulas. Lama-lama mau lanjut tidur juga nggak nyaman, tenda udah kena senter orang-orang yang melanjutkan perjalanan ke Puncak Mahameru.

Sekitar jam 00.30 rombongan gue melanjutkan pendakian gunung semeru dengan gontai. Eh, gue aja deng, yang lain mah semangat. Mata tuh rasanya kriyep-kriyep ditambah hawa dingin di malam hari, pengennya kemulan aja. Track menuju batas vegetasi akhir juga malesin banget, jalannya sempit penuh dengan pohon tumbang dan jadi harus manjat-manjat gitu, dengkul kena dagu istilahnya -saking harus ngangkat kaki tinggi-tinggi.

Akhirnya sekitar jam 3-4an gue tiba di batas vegetasi akhir, merem-merem bentar sambil pipis-pipis halu. Lanjut lagi ke tantangan berikutnya, tanjakan berpasir. Setiap melangkahkan kaki, bisa turun dua sampai tiga langkah. Ih bikin gemas. Apalagi kalau ada pendaki yang salah injek, bisa jadi batu pijakannya runtuh ke bawah, kan kenceng ya jatuhnya, rasanya pasti sakit kalo kena. Di film 5cm aja si Ian bisa sampe berdarah dan pingsan.

Setengah pendakian gue ketemu orang-orang baik yang rela mengulurkan tali untuk ditarikin para pendaki, biar nggak melulu merosot kebawah. Nggak cuma itu, gue juga mau dipinjemin pelindung kaki -biar nggak kemasukan batu, diajak ngobrol, ditemenin istirahat, berbagi makanan, sampai sharing air minum. Suasana jadi haru banget.

 

10649987_10202804860430364_1717060042737362785_n

Alhamdulillah yah, mereka bisa punya foto di Puncak Mahameru, nggak kayak gue. Lain kali lah, kalau ada yang mau nemenin sekalian jadi fotografer pas sampai di puncak gue jabanin ikutan pendakian gunung semeru lagi. Anyway, yang mau tau spot foro terbaik di Semeru bisa coba cek di artikel ini.

Kali Kedua pada yang Sama

Judul lagu dari Raisa ini emang pas banget buat menggambarkan suasana saat itu. Walaupun gue bisa aja langsung bablas ke Ranu pani tapi kayaknya ada yang kurang kalau nggak bermalam di Ranu Kumbolo lagi. Kapan lagi kan bisa menikmati sunrise di pinggir danau gini?

ranu kumbolo

 

4 Comments

    • insalamina August 15, 2017
  1. Abdul August 18, 2017
    • insalamina August 19, 2017

Leave a Reply