Sedikit Cerita dari Perjalanan di Turki

Terlalu banyak yang ingin kutumpahkan, hingga rasanya tak satupun bisa keluar dengan runtut. Berceceran. Lelah.

Ini tentangmu, tentangku, tentang perjalanan hidupku, dan perbedaan diantara kita yang entah mendekatkan atau malah menjauhkan. Entah bisa melengkapi atau malah semakin menyakiti. Sudah sejak kemarin malam aku ingin menulis, tapi rasanya aku bingung untuk mengutarakannya. Terlalu banyak hal yang ingin kusampaikan, mulai dari yang bisa membuat tertawa lepas hingga ku bungkam seribu bahasa.

Sepertinya lebih baik mengawali tulisan dengan yang ringan. Oke, mulai dari teringatnya perjalanan waktu ke Turki, setelah membaca artikel di Hipwee tentang introvert traveler gue jadi merasa gue adalah traveler yang seperti itu haha. Jalan jalan tetap menjadi nomor satu di daftar hal yang paling menyenangkan -setidaknya hingga detik ini, dan yak jelas sekali gue selalu menginginkannya, menikmati pemendangan, menyaksikan penduduk lokal beraktifitas, bertemu orang baru, but stop, cuma sampai situ, ga berlanjut kenalan. Gue tipe yang mudah bergaul tapi ga suka bergaul, hahahaha *ngarang.

Gue pernah berfikir kalau traveling sendiri itu akan maksa kita untuk berinteraksi sama orang sekitar dan membuat kita jadi punya temen baru. Well, itu ga salah tapi ga sepenuhnya benar terutama buat gue. Gue pernah jalan – jalan sendiri yang malah membuat gue nyaman sama diri sendiri dengan segala keheningannya. Ga masalah untuk terpisah dari rombongan saat mendaki gunung -asal jelas tau posisi mereka dimana, kalo ga gue ilang gawat. karena saat saat itulah gue merasa mendapat kepuasan melakukan perjalanan, dan disaat bersama mereka disitulah gue merasa keseruan dari perjalanan.


Pada suatu waktu di kota Izmir, gue pulang sendiri naik bis ke rumah. Pas baru aja gue nyampe bis gue baru sadar kalau gue salah naik bis-_- karena gue gatau harus berhenti di terminal mana untuk ganti bis lain, gatau juga ini tujuannya mana, dan gue gamau bertanya jadilah gue cuma sok cool sampe ke terminal terakhir untuk kembali lagi memakai bis yang sama dan berhenti di tempat yang sama. Padahal kalo diinget inget lagi kayaknya sekali perjalanan dari terminal awal sampai ke terminal akhir ini 30 menitan lebih yang artinya jauh hahahahaha

Lalu saat di pesawat entah darimana kemana, gue selalu ingin ngobrol sama orang disamping gue. Yes, again, I dont know how to start, masa tiba tiba kenalan atau sekedar nanya mau kemana? yg jelas kayaknya jawabannya udah tau wkwkwk. Giliran dia yang mulai pembicaran terus gue jadi mendadak ga mood ngobrol, canggung, alhasil percakapan kita cuma jadi kayak dia mewawancarai gue tanpa gue tanya balik, lalu berakhir. Awkward beberapa menit, dan pura pura main hp, baca buku, liat jendela atau benerin tempat duduk bersiap tidur.

Selain gue (sepertinya masuk kategori) introvert traveller, gue juga lazy traveler, ya sebenernya ga cuma dalam bidang jalan – jalan sih haha. Katanya seneng? kok males ngelakuinnya? Iya jadi gini, gue suka banget berpergian, gue ga males bepergian, tapi gue males melakukan aktivitas didalamnya. Halah ribet banget, contoh kecilnya gini, gue pengen banget jalan jalan keliling kota Izmir dan kemudian menikmati sunset di lift tertinggi -yang atasnya dijadikan restoran. Gue berhasil mengumpulkan niat untuk akhirnya pergi ke stasiun naik kereta dan alhasil gue cuma keliling kota lewat kereta… bawah tanah! ya, gue ga keluar kereta dan melihat sekitar gue cuma didalem kereta, dibawah tanah. Menarik sekali, bukan?

Pas udah sampai di stasiun dimana wisata lift itu berada, gue turun, keluar dari stasiun, melihat sekitar, lalu bingung mau ngapain. Ingin beranjak masuk dan naik tapi enggan berkomunikasi, bahkan untuk sekedar berbicara pada petugas disana. Akhirnya, cuma duduk di kursi yang menghadap laut. Bahkan untuk mengeluarkan kamera pun rasanya malas sekali, biarlah dinikmati saja pemandangan di depan mata ini. Satu hal yang pasti selama di negeri orang, tidak mau terlihat seperti turis yang baru singgah.

Sebenernya, menurut segala tes ala ala itu gue termasuk extrovert sih, gue setuju karena gue suka langsung mengekspresikan perasaan. kalau kata temen gue sendiri gue itu introvert extrovert, nah loh gimana tuh.

3 Comments

  1. Anonymous November 11, 2015
  2. Anonymous November 11, 2015
  3. Intan Salamina December 13, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.