Pendakian Gunung Gede Melihat Indahnya Surya Kencana

signage taman nasional gede pangrango

It’s my dream mas! Kalau Kinan cita-citanya naik balon udara di Kapadokya, gue cita-citanya camping di surya kencana. Bahkan keinginan ini muncul dari sejak awal punya hobi mendaki gunung. Gimana enggak? Banyak orang yang menceritakan surya kencana dengan syahdu. Seakan-akan ini adalah tempat terindah di bumi.

Atas dasar ini juga lah pendakian ke Gunung Gede, Jawa Barat bisa berakhir tanpa wacana.

Ketinggian Gunung di Atas Permukaan Laut

Sebelum lanjut ke catatan perjalanan pendakian Gunung Gede, gue mau sedikit membahas perihal berapa mpdl sih ketinggian Gunung Gede?

Pasalnya, gunung ini sering dikira sama atau ketuker dengan Gunung Gede Pangrango. Nggak heran sih, karena memang Gunung Gede termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Jadi gampangnya, kawasan gunung ini punya dua gunung yang posisinya berdekatan, bukan cuma dua puncak ya. Soalnya memang masing-masing memiliki kaki gunungnya sendiri.

Nah Gunung Gede ini memiliki ketinggian 2.958 mpdl. Sedangkan Gunung Gede Pangrango memiliki ketinggian 3.019 mdpl.

Jalur Pendakian Gunung Gede

Terdapat 3 jalur resmi untuk mencapai puncak Gunung Gede, yaitu yang paling populer via Puteri, jalur Cibodas dan Selabintana. Lintas jalur pun hal yang sangat biasa di Gunung Gede karena memang banyak pendaki yang ingin cepat sampai namun tidak curam ketika turun, sehingga mereka memilih naik lewat Puteri lalu turun lewat Cibodas.

Gue sendiri lebih memilih naik dan turun via Putri, selain karena populer, juga karena ini jalur paling singkat dan relatif mudah.

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Gede

Tiba di Basecamp Puteri

Gue tiba di basecamp dikala semua orang sudah tertidur (baca: jam 1 pagi), namun tetap saja di sekitar area basecamp ini masih saja ramai orang. Seakan-akan basecamp tidak pernah tidur, mungkin juga karena kala itu akhir pekan. Musimnya para pendaki gunung berkeliaran.

Setelah beres urusan parkir, gue bergegas masuk ke dalam rumah singgah dan tertidur lelap.

Mulai Pendakian

Masih gelap, tapi di area basecamp sudah ramai orang bicara dan mondar-mandir. Alhasil gue memilih bangun seutuhnya saja daripada tidur kebangun terus. Niatnya mau langsung ke kamar mandi dan wudhu, tapi kok dingin banget! Jadi menunda sebentar sambil mainin hp.

Pagi ini sarapan jam 06.30 dengan nasi kuning, yeayy, belum sampai ke puncak kok udah merayakan dengan nasi kuning aja ya ini? Hahaha

Kami mulai bergerak dari basecamp tepat jam 7 pagi. Jalurnya masih berupa aspal melewati beberapa rumah singgah lainnya, lalu terakhir di ujung jalan melewati pos simaksi untuk mengurus tiket masuk.

15 menit kemudian kami tiba di area pengumpulan sampah pengunjung. Lalu istirahat sebentar sambil briefing. Pendakian baru benar-benar dimulai jam 07.48 dari ketinggian 1.648 mdpl.

Setelah berjalanan agak capek, kita ketemu warung pertama, mungkin sekitar setengah jam perjalanan, otomatis langsung istirahat rebahin badan. Seperti biasa, yang awal itu yang paling berat. Ternyata di sini tempat ojeg terakhir bisa lewat dan juga jadi tempat mangkal dengan plang bertuliskan tanah merah.

Pos 1 – Informasi Lama

Pas lagi capek-capeknya jalan menuju pos 1, gue melihat ada sebuah bangunan warung lagi untuk kedua kalinya. Aaaah leganya bisa sampai di pos 1 yang artinya bisa istirahat, pikir gue.

Eh anjayani, ternyata gue tertipu, ini hanyalah warung biasa… bukan pos 1. Beginilah nasib mendaki gunung yang memiliki banyak warung di jalur. Menurut info yang beredar sih warung-warung ini paling banyak buka saat weekend, ya wajar sih.

Sampai akhirnya tiba beneran di pos 1 dengan ketinggian 1.880 mdpl pada pukul 09.08 pagi.

Lalu lanjut jalan lagi karena ternyata badan ini sudah mulai terbiasa berjalan, serasa dapat tambahan energi gitu. Jadi gas pol aja lah menuju pos selanjutnya.

Nggak lama gue ketemu warung lagi, kali ini dengan bangunan tanpa atap yang masih membuat gue tertipu (lagi) gue kira pos 2. Ah sudahlah, gue nggak akan sesenang ini lagi ketemu warung, semua akan gue anggap warung aja bukan pos…. capek kecewa hahahaha.

Pos 2 – Leugok Leunca

Cuman ternyata nggak berselang lama, gue tiba juga di pos 2 jam 09.20 pagi, wah nggak nyadar ternyata hanya butuh kurang dari 18 menit untuk sampai ke sini dari pos 1. Kami sudah naik 120 mdpl dari terakhir istirahat yang artinya gue berada di 2.000 mdpl.

Di sinilah mulai jalan yang jauuuuuuuh. Jalur antara pos 2 ke pos 3 ini dibilang memiliki trek terjauh dengan jalur yang mulai menanjak tapi belum terlalu curam.

Sepanjang jalur juga tidak begitu terkesan dengan viewnya, ditambah semangat sudah mulai menipis. Jadi selama perjalanan pun kebanyakan jalan aja dan sedikit berbicara sampai akhirnya 30 menit kemudian ketemu warung (lagi) yang bukan pos lalu memutuskan untuk beli gorengan.

Perjalanan semakin menanjak, beberapa kali melewati jalur bekas gempa sehingga harus lebih melangkah untuk melewati pohon dan batu.

Ditengah juga kami menyempatkan bercengkrama dan bergosip ria di batang pohon yang jatuh. Yang memang sepertinya disengaja untuk menjadi tempat duduk para pendaki.

Lalu mampir ke warung Mang Obel buat nemenin orang beli gorengan wkwk.

Sudah hampir jam 11 siang, gue memilih untuk istirahat di jalan, padahal udah hampir nyampe pos 3. Ketinggian juga sudah di 2.200mdpl.

pos 3 – Buntut Lutung

Ingin ku berteriak “akhirnyaaaaaaaaaaaaaaa sampai!” tiba di ketinggian 2.281 mdpl

Senang sekali karena ini saatnya makan siang. Hah aku capek. Walaupun jam menunjukkan pukul 11.05, tapi rasa lapar sudah sampai ke puncaknya.

Setelah 1 jam bersantai, kami lanjut berangkat lagi menuju pos 4.

Trek dari pos 3 ke pos 4 nggak jauh kayak pos 2 ke 3 tapi tanjakannya luar biasyah! Ini lah saatnya menghmebuskan nafas lebih sering dibanding bicara. *sigh*

Memang tidak begitu jauh, tapi dengan banyaknya rintangan didepan mata yang mengharuskan dengkul ketemu perut tuh ya tetap saja bisa memperlambat perjalanan.

Sempat istirahat juga 10 menitan, lalu jalan nggak lama tiba di pos bayangan. Pos bayangan (yang tentunya ada warung) ini berjarak hanya 15-20 menit sebelum pos 4 yang sungguhan.

Pos 4 – Simpang Maleber 2.627 mdpl

Benar saja, kurang dari 20 menit kami sampai di pos 4. Di sini gue nyemil dulu sambil ngevlog. Hasil vlognya sudah tayang di Yucub Insalamina. Silahkan nonton yaa.

Di sini banyak istirahat lebih banyak sesi gibah curhatnya. Gapapa banget lama ngobrol, soalnya udah jalan 2 jam dari terakhir kali istirahat panjang di pos 3. Sudah jam 2 sekarang, sebenarnya masih cukup siang, masih bisa leyeh-leyeh. Cuman gue masih belum tau nih rintangan di depan akan ada apa. Jadinya nggak terlalu lama, kami caw lagi.

Walau 40 menit kemudian istirahat lagi sih di tengah jalanšŸ˜­

Asli perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 adalah part yang paling ngantuk!

Di sini jalan udah mulai sering ketemu bonus, landai, datar sampai akhirnya di ujung jalan ketemu secercah cahaya. Yang artinya sudah nggak ada vegetasi (yaiylah) yang artinya surya kencana di depan mata!

Pos 5 – Alun – Alun Surya Kencana Timur

Senangnya bukan main ketika akhirnya gue sampai di pos 5 di ketinggian 2.765 mpdl. Kala itu sudah jam 3 sore, masih terlalu dini untuk mendirikan tenda. Jadi lebih banyak diisi dengan ngevlog, bikin konten dan sorak gembira bersama teman-teman.

Begitu keluar dari hutan dan berada di alun-alun surken berasa banget seger angin, dingin! Sebenarnya dari sini ke tempat are camp tuh masih jauh. Masih 30 menit perjalanan. Tapi gapapa banget karena jalannya tuh dataaaar, bisa sambil ngogbrol dan nge-konten tuh nggak berasa.

Total hiking dari basecamp ke alun-alun membutuhkan waktu 7,5 jam, sudah termasuk istirahat.

Summit Attack

Sudah disepakati semalam, jam 5 pagi hari ini harus sudah bergegas ke puncak gunung gede. Tepatnya berangkat jam 5.17 pagi. Butuh waktu 1 jam untuk gue tiba di puncak. Dari atas sini baru ngeh ini kenapa nggak bisa dua puncak sekaligus, karenan memang jauh banget ke puncak Gunung Gede Pangrango.

Nggak perlu lama-lama, sekitar 1 jam di puncak langsung menuju tempat camp di alun-alun surya kencana barat. Ternyata perjalanan turun pun nggak beda jauh sama naik, sekitar 35-40 menitan.

Perjalanan Pulang

Jujur, rasanya belum mau pulang meninggalkan alun-alun surya kencana. Setelah summit attack tadi pagi dan sarapan, gue sempat tidur siang dulu di dalam tenda yang makin memanas terkena sinar matahari.

Sudah pukul 10 pagi.

Mau nggak mau, gue harus mulai bebenah dan otw hiking turun. Masih ingat besok pagi sudah harus kembali bekerja. Padahal, rasanya sih ingin camping 3 hari 2 malam di surken.

Tepat jam 10.26, gue dan team berjalan turun menuju basecamp. Kali ini perjalanan turun lebih santai, menemani Sule yang agak takut dengan jalanan turun, beda dengan Dini yang sudah ngebut karena kangen toilet katanya.

Gue, Kak Dape dan Sule kembali ke tempat penampungan sampah di jam 14.52. Jadi kurang lebih hiking turun membutuhkan waktu 4,5 jam. Walau santai, tapi jauh lebih cepat, kan? Hahaha ya namanya juga turun gunung.

Yah begitulah pendakian pertama gue ke Gunung Gede, membawa bekas indah. Tentu saja ingin kembali lagi, karena masih ingin camping di surken dan juga ingin ke puncak Gunung Gede Pangrango. Mau ikut?

insalamina

Sedang berusaha menggapai impian keliling dunia dengan kerja remote. Gue dengan senang hati mengizinkan kalian menggunakan gambar atau sebagian post yang gue tulis, tapi tolong backlink atau tulis sumbernya. Gracias

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.