Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Travelling ke Korea Selatan di Tengah Pandemi Virus Corona

Semua persiapan liburan musim dingin sudah disiapkan dengan matang, hati senang bukan kepalang. Akhirnya menapakkan kaki di negara 4 musim lagi. Tepat tanggal 20 Januari 2020 gue jalan-jalan ke Korea Selatan, saat itu belum ada pembatasan untuk berpergian.

Pertama tiba di Bandara Incheon, agak linglung sama form kesehatan yang dikasih. Selama ini ke negara apapun nggak pernah dikasih form kesehatan gini. Gue pikir, Korea Selatan keren juga ya sampai detail gini, apakah ada penyakit menular di negar tertentu seperti ebola?

Jujur, nggak begitu update dan rasa khawatir dengan penyakit itu pun tidak ada.

Setelah mengisi form kesehatan, gue ngelewatin gate untuk ngecek temperature tubuh. Petugas melihat suhu tubuh pendatang melalui monitor.

Temen gue yg agak jetlag dengan perbedaan suhu dari Jakarta – Korea, jadi sedikit pilek. Gue pikir daripada ribet ditanya-tanya, mendingan nggak nulis gejala apa-apa.

Toh, ini karena suhu di pesawat dingin dan jetlag suhu aja gitu, nanti juga normal kembali.

Nggak lama dari situ, temen gue yang lebih update tentang berita dengan dunia luar ini agak heboh bilang katanya ada virus dari Negara China yang menular banget.

Gue cuma iya-iya aja, tanpa mikir lebih jauh. Temen gue pun menyudahi pembahasan tersebut. Sesimple kita kan lagi di Korea bukan di China. Jadi chill aja lah, fokus liburan aja dulu.

Mulai Hebohnya Virus Corona di Korea Selatan

Liburan gue di Korea berjalan dengan lancar, di musim dingin seperti ini memang harus lebih jaga kesehatan, gue takut masuk angin terus kentut-kentut. Jadi bisa dipastikan makan harus teratur selama trip.

Gue beberapa kali melihat penduduk lokal di sini suka menggunakan masker, mirip dengan pemandangan di Jakarta saat menggunakan Transjakarta atau KRL. Padahal cuaca di sini menurut gue lebih menyenangkan untuk dihirup sebanyak-banyaknya. Terutama gue sering mulai trip di pagi hari.

Ah kedinginan aja kali ya jadi pake masker, bukan karena debu/polusi. Memang lebih nyaman kalau muka agak ketutup sih dari terpaan angin.

Memasuki hari ketiga, gue berangkat pagi-pagi ke Vivaldi Ski Park. Tempat yang dipenuhi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Pertama kali nya bermain ski selama hidup. Sebuah definisi bahagia, mengingatkan saat pertama naik Hot Air Ballon di Turki.

Saat asyik-asyiknya belajar ski di Vivaldi Ski Park, gue yang sedang mastiin schedule hari itu tiba-tiba dapat notifikasi di Hp berasal dari pemerintah Korea Selatan. Isinya seperti ini:

“Wah ini seriusan banget nih?”

Ternyata, di hari itu Korea Selatan punya dua pasien positif Corona. Di hari itu pula, gue baru ngeh kalau nama virus yang menular di China adalah Virus Corona. Waktu itu ada isu yang beredar kalau virusnya bisa menular via udara.

Makin sadar saat melihat sekeliling banyak orang pakai masker, bahkan masker yang N95. Spontan langsung lilit muka pakai phasmina.

Betapa bodohnya mengira selama ini ngira penduduk Korea Setalan emang demen aja pakai masker, yaa seperti artis-artis K-drama begitu lah.

Agak panik juga karena kita berkunjung ke tempat-tempat yang turistik banget, dan tempat berkumpulnya orang banyak. Setiap ada turis yang batuk-batuk dan bersin gue be like:

NOOOOOOOOOOOOOOOO!

Di berbagai tempat wisata di Korea udah ada himbauan untuk menggunakan masker dan menyediakan hand sanitizer. Jadi berasa mau jenguk orang di rumah sakit gini euy.

Mulai agak aware karena rasa-rasanya jadi serius. Mulai milih-milih beli masker ala korea berbahan scuba warna hitam yang sekarang hits juga. Dulu asal aja beli masker, yang penting keren dan ‘aman’. Ternyata ada beberapa jenis masker yang punya kegunaan berbeda.

Drama dimulai Ketika Tiba di Tanah Air

Gue kambali ke tanah air tanggal 26 Januari 2020. Sepulang dari Korea, gue disambut oleh petugas di bandara, belum ada surat atau apapun. Gue perhatikan hanya pendatang yang berasal dari Negara China yang akan ditanya lebih lanjut. Gue? lempeng aja jalan terus. Belum dapat perhatian lebih dari petugas bandara di Indonesia.

beberapa waktu berlalu…

Gue mendadak ngerasa nggak enak badan di hari jumat pagi 07 Februari 2020, gue pikir karena masuk angin aja kan. Biasa, semua apa-apa masuk angin disalahkan.

Jumat malam rasanya bener-bener nggak enak banget dan udah ngerasa demam. Gue yang tau diri langsung beli termometer lewat halodoc. Udah gak peduli lagi sama harga, langsung beli dan mau ngecek tes. Sembari ngitung-ngitung apakah gue udah lebih dari 14 hari semenjak kepulangan dari Korea Selatan.

Memang sangat membantu sekali aplikasi Halodoc ini dikala sedang sakit. Tinggal buka dan search aja obat yang dibutuhkan, bayar nya bisa menggunakan Gopay dan obat akan dikirimkan melalui Driver Gojek.

Lega banget tinggal nunggu aja sambil terkapar di kamar kostan, nggak sampai 1 jam kemudian abang Gojeknya tiba.

Dugaan demam ternyata benar, pertama ngecek suhu nya 37.5°C. Demam berangsur naik hingga mencapai tertinggi 39.1°C. Setelah menghitung-hitung, ini baru hari ke-12 setelah kepulangan dari Korea Selatan.

Apakah gue panik? lumayan.

Di otak gue isinya cuma

“Wow is this Corona real?”

“Apakah gue akan jadi pasien pertama di Indonesia?”

“Gimana nasib teman-teman seperjalanan gue, demam juga gak ya?”

Lalu menangis semalaman, tidak mau menjadi pasien pertama dan pembawa Corona di Indonesia. Sungguh drama.

Periksa Kesehatan ke Rumah Sakit, Khawatir Terdampak Corona

Bukannya demam turun, eh ditambah sakit tenggorokan. Akhir pekan gue diisi dengan batuk tidak berdahak. Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, akhirnya hari minggu sore, 09 Februari memutuskan untuk datang ke UGD RSUD di Jakarta Selatan untuk ngecek.

Pada saat itu belum ada kasus positif Corona di Indonesia, untuk ngetes pun masih harus ke rumah sakit yang ditunjuk dengan prosedur yang belum gue ketahui.

Gue menceritakan semua gejala dan suhu tubuh gue dengan lumayan detail termasuk riwayat perjalanan ke luar negeri. Jujur, agak malu juga nyeritain riwayat perjalanan. Masih sempet-sempetnya mikir, takut dikira sombong 🙁 yaampun

Mungkin anak sultan akan tertawa bacanya, ke Korea aja takut dikira sombong HAHAHA ngakak.

Anehnya, begitu berada di Rumah Sakit, demam gue berangsur turun. Begitu diperiksa kedua kali nya dengan dokter, suhu nya 36.5°C yang artinya tidak demam. Waw agak magic.

Dokter menyarankan untuk istirahat dan makan yang teratur lalu menghindari minuman kopi dan memberikan obat magh. Heran sungguh heran, padahal minum kopi juga enggak.

Kadang kepikiran, apakah mungkin aku pasien Corona yang diam-diam survived?

Entahlah.

Gimana menurut pendapat kamu?

Kasus Corona di Indonesia 3 Bulan Kemudian

Selagi menuliskan artikel pengalaman khawatir kena Corona ini, sudah ada kasus positif di Indonesia sebanyak 9.096 orang dengan 1.151 orang dinyatakan sembuh (27 April 2020)

Dilihat dari perkembangannya yang begitu pesat, banyak sekali orang-orang yang membantu untuk terdampak Corona. Kini untuk test Corona pun lebih mudah dilakukan.

Sebuah langkah inovatif dari Halodoc untuk menyikapi wabah Corona yang sedang jadi sorotan. Masyarakat tidak perlu panik, jika memiliki gejala yang mirip dan potensi terdampak Corona, kamu bisa langsung mencoba Rapid test yang diadakan Halodoc.

rapid test

Buat yang belum tau tentang Halodoc, gue jelasin sekilas ya. Halodoc adalah aplikasi kesehatan berbasis online. Di dalam aplikasinya, kalian nggak cuma bisa beli obat-obatan, tapi kamu juga bisa konsultasi langsung dengan Dokter.

Gue sendiri udah pernah beberapa kali konsultasi gratis dengan Dokter gigi, Dokter Bedah Umum dan Dokter Umum melalui Aplikasi Halodoc. Kalau memang dirasa butuh obat, Dokter yang bersangkutan akan memberikan resep. Obatnya bisa dibayar melalui gopay lalu dikirimkan ke rumah. Simple kan?

Jika dirasa perlu analisa lebih lanjut dengan peralatan rumah sakit, maka kamu bisa melakukan janji temu dengan Dokter di rumah sakit yang ada di sekitar kamu.

Nah sekarang, pastikan untuk selalu hidup bersih dan sehat ya! Semoga Coronavirus ini cepat berlalu, agar kita bisa jalan-jalan lagi. Kalau sakit? Ingat Halodoc. Lebih baik tanyakan langsung sama ahlinya.

3 Comments

  • Tanti Amelia
    Posted April 28, 2020 at 6:41 pm

    duh ikutan deg degan bacanya aku, alhamdulillah sehat yaaa

    Reply
    • Post Author
      insalamina
      Posted April 30, 2020 at 1:59 am

      Alhamdulillah

      Reply
  • Lingga
    Posted May 22, 2020 at 12:58 pm

    Wow sungguh pengalaman yang mendebarkan.

    Semoga corona cepat teratasi di Indonesia.

    Reply

Leave a Comment

0.0/5

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.